JIWAKU TETAP DISANA

Dari sebongkah batu besar di tepi jalan penuh aktivitas itu akan tampak sebuah perkampungan padat, kumuh, dan tak bersahabat di tengah megahnya bangunan pencakar langit Ibukota. Rumah-rumah yang tak layak huni berdiri pasrah dengan dinding-dinding dari kardus bekas atau anyaman bambu yang telah lapuk termakan usia. Entah darimana asal mula semua yang tengah aku saksikan ini. Tapi di tempat seperti itulah aku lahir dan dibesarkan. Namun, bertahun-tahun lalu sudah aku tinggalkan tempat itu. Masih saja seperti dulu.

 Di batu itulah biasanya aku duduk sendiri atau terkadang bersama teman-temanku untuk melepaskan lelah setelah sehari penuh bekerja sebagai seorang pengamen. Tahukah kawan duduk di atasnya  bagaikan berdiri di atas batu karang di  pesisir pantai memandang laut lepas di hadapannya.

Namun yang tampak di depanku hanya setumpuk sampah menggunung dengan bau menyengat dan lalat-lalat tak tahu diri yang bermain riang di barang-barang bekas para petinggi itu yang menjadi sumber emas berharga bagi pemulung kampungku demi asap yang mengepul dari dapur.

Kota Jakarta dengan segala dunia persaingan dan hiburan itu, tempat aku dan teman-teman sebayaku mencari sedikit penghidupan. Bisa dikatakan sesuatu yang sebenarnya tak layak bagi anak seusiaku yang seharusnya sedang asik belajar, dan bermain di bangku sekolah. Ya kawan hidup ini sulit untukku. Usiaku yang baru beranjak 17 tahun harus rela meletakkan badan kecilku di padatnya jalan raya Jakarta.

Hidupku bisa dikatakan sangat sederhana. Di dalam rumah yang sangat sederhana dengan dinding yang terbuat dari bambu dan dilapisi koran bekas itu, aku menghabiskan hari-hariku bersama bapak dan ibuku yang bekerja sebagai pemulung.

Pagi hari disaat kebanyakan orang masih berteman dengan bantal dan guling mereka, orangtuaku sudah siap mendorong gerobak reyot lalu berkeliling jalan mencari barang-barang yang sudah dianggap sudah tak berguna oleh pemiliknya. Masuk – keluar perumahan mewah sudah biasa bapak dan ibu lakukan, bertemu dengan orang-orang kaya yang berangkat bekerja dengan mobil bermerk yang aku saja kesulitan untuk membacanya.

Walaupun begitu, aku senang memiliki orangtua seperti mereka yang tak pernah mengeluh dan selalu memberi nasehat agar aku tidak meninggalkan shalat dan selalu  berusaha untuk mendapatkan yang aku inginkan, tentunya dengan usaha yang baik.

Tetapi itu dulu. Kira-kira 10 tahun lalu. Karena saat ini aku telah menjadi pengusaha sukses dengan rumah, rekan kerja, dan hidup yang bisa dikatakan berkecukupan. Aku sekarang bermain dengan para petinggi itu yang dulu aku bilang mereka hanya pembuat sampah di tempat tinggalku, mereka yang tak peka terhadap kaum pinggiran seperti aku. Tapi kini mereka menjadi rekan kerjaku. Bersama-sama merencanakan pembangunan kota.

Kini aku telah menjadi seorang kontraktor yang membangun gedung-gedung megah itu. Itu semua berawal dari hobi menggambarku, terutama menggambar gedung bertingkat. Dulu aku memang bercita-cita menjadi seseorang yang bisa membuat tempat yang bagus untuk bekerja orang-orang tinggi itu. Dan itu telah terwujud.

Suatu ketika aku menggambar gedung dengan pensil dan penggaris yang aku dapatkan dari tumpukan sampah itu. Ternyata sumber bau itu bisa jadi penolongku juga. Aku menggambar dengan imajinasiku. Tanganku lihai menarik garis-garis untuk membuat gambar yang baik menurutku. Aku sempat tertidur setelah menyelesaikannya. Dan tahukah kawan bahwa saat aku terbangun perasaanku tak karuan. Aku melihat hasil karyaku dengan bangga atau bahkan sangat berkesan seumur hidupku.

Aku tersenyum sendiri menerawangnya di cermin satu-satunya milik bapakku yang sudah usang termakan waktu. Saat itu ibu dan bapakku sedang bekerja, jadi mereka tak bisa ikut merasakan kebahagiaanku.

Gedung bertingkat dengan banyak jendela dan kuberi warna hitam dari goresan pensil karena aku tak memiliki pensil warna untuk membuat karyaku lebih indah lagi. Ingin kupajang benda bernilaiku itu di dinding rumahku agar bapak dan ibu bahkan aku bisa melihatnya setiap hari.

Tapi niat itu aku urungkan karena aku baru tersadar bahwa hari ini aku sudah berjanji kepada temanku Katri untuk mengamen di bawah jembatan layang yang baru saja diresmikan. Menurut temanku itu pasti akan banyak kendaraan mahal yang melintas sehingga kami bisa mendapatkan uang banyak dari biasanya.

Segera kuambil tas kecilku yang biasanya aku pakai untuk menyimpan uang hasil bekerja dan sebuah ukulele yang aku dapat dari pemberian kakek sewaktu ia masih hidup. Sesaat kulihat gambarku, rasanya tak ingin pisah darinya. Akhirnya aku putuskan untuk membawanya. Kugulung dengan hati-hati lalu kuikat dengan karet, dan kuselipkan dalam tas.Tak berlama-lama lagi aku keluar rumah dan menemui Katri di gang rumahku. Ternyata ia sudah lama menunggu.

“Hai Genta kemana saja kau? Aku menunggu dari satu jam lalu.”

“Maaf ya aku tadi tertidur.”

“Ya lupakanlah. Ayo kita sekarang lekas ke jembatan itu. Khawatir sudah habis lahan untuk anak ingusan macam kita ini. Tak mungkin kita harus berebut tempat dengan preman-preman itu.”

Kami pun berlari menyusuri gang sempit yang menghubungkan kampung dengan jalan raya. Katri membawa gendang yang ia buat sendiri dari paralon dan pada salah satu lubang ia tutup dengan balon lalu diikat dengan karet sekuat-kuatnya sehingga bisa menghasilkan suara yang enak didengar.

Jarak menuju jembatan baru itu memang tidak terlalu jauh, tapi kami tetap saja berlari. Tak ada obrolan di antara kami. Hanya terdengar suara helaan napas dari aku dan Katri. Karena kami tak ingin ketinggalan rezeki dari lahan baru itu.

Ketika sudah tiba di jembatan itu, Katri tiba-tiba menghentikan larinya dan begitupun dengan aku. Ia terkejut melihat sudah banyak pengemis dan pengamen di sana. Wajahnya terlihat cemas. Lalu kutanya ia.

“Kenapa kau? Ayolah cepat! Katanya ingin mendapat uang banyak.”

“Apa aku bilang. Kita terlambat. Lihat mereka sudah mendapat tempat masing-masing. Sedangkan kita…”

“Jadi kau menyalahkan aku? Gara-gara aku, kita terlambat? Begitu, Katri?”

“Siapa yang menyalahkanmu, Ta? Aku cuma bilang kalau kita terlamabat. Sensitif sekali kau ini.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan? Memohon-mohon untuk boleh mengamen disini atau kita kembali ke tempat lama?”

“Payah kau Genta! Badanmu saja yang kau besarkan, tapi tak punya nyali.”

Ingin kuhajar Katri saat itu karena mengatakan bahwa aku tak bernyali kalau saja aku tak ingat bahwa ia temanku sejak kecil. Tubuhnya yang kecil terlihat lemah bagiku. Segera kusapu pikiran itu.

“Sudah langsung saja kita mengamen. Tak usahlah pakai izin tak berguna itu. Kau lihat itu! Mobil-mobil mewah itu pasti menyimpan kantong-kantong uang untuk orang kecil seperti kita.”

Kami pun turun ke jalan dan mulai menghasilkan pundi-pundi uang. Aku dan Katri bersama-sama menyanyikan lagu Sang Penghibur dari Padi dan Bento milik Iwan Fals. Aku memainkan ukulele dan bernyanyi sedangkan Katri asik memukul gendang buatannya. Ya paling tidak suaraku masih enak terdengar. Maklum dulu Kakek sering mengajariku bernyanyi.

Satu-persatu kami datangi mobil-mobil yang terjebak lampu merah. Suasana saat itupun sepertinya mendukung usaha kami untuk menyambung hidup. Orang-orang dengan mobil mahal itu berbaik hati memberi kami uang walaupun hanya lima ratus rupiah, tetapi ada juga yang merelakan uang lima ribu rupiah dari dompetnya untuk menjadi milikku dan Katri. Mungkin saat itu mereka juga sedang bahagia seperti yang aku rasakan terhadap gambarku, atau mereka memang orang-orang yang punya perasaan terhadap kaum terpinggirkan seperti diriku.

Setelah merasa kalau uang yang kami kumpulkan sudah cukup, dengan setengah berlari kami menuju trotoar untuk mulai menghitung rezeki yang Allah berikan untuk aku dan Katri hari ini. Kami membagi tugas, aku menghitung uang ribuan sedangkan Katri menghitung uang koinnya. Setelah itu kami menggabungkannya. Alhamdulillah Allah memang sangat baik kepada kami. Hari ini kami mendapat dua ratus ribu dari orang-orang berkantong itu. Kami memutuskan untuk membagi dua hasilnya. Sama rata sama rasa. Lalu aku segera pulang dan memberi uang itu kepada ibu untuk disimpan.

Tetapi tiba-tiba aku tersadar bahwa gambarku yang aku simpan di dalam tas sudah tak terlihat lagi. Aku sangat ketakutan bahkan hampir menangis. Aku dan Katri mencari-cari dimana jatuhnya benda kesayanganku itu. Pikiranku melayang membayangkan gambarku dicuri orang saat aku sedang sibuk mengamen di jembatan itu. Tapi segera kutepiskan pikiran itu. Kami terus mencari di trotoar, jembatan, sampai bertanya kepada para pengemis, dan pengamen lain yang tadi juga berada disana.

Tak sampai hati aku jika harus tahu kalau gambarku berada di jalan lalu terinjak mobil yang melintas. Entah seperti apa bentuknya nanti. Atau dicuri orang tak bertanggung jawab yang langsung membuang benda itu ke tempat sampah karena menganggap gambar itu memang hanya sampah menjijikan.

Hari sudah hampir gelap. Aku mencari sampai tak shalat ashar. Kalau sampai orang tuaku tahu kalau aku tak shalat hanya karena gambar itu, bisa-bisa aku menjadi santapan empuk mereka. Akhirnya karena lelah, aku dan Katri memutuskan untuk pulang dan aku harus merelakan gambarku begitu saja. Karena tak mungkin mencari benda kecil itu di kota seluas ini. Aku berjalan lunglai menuju rumah. Katri pun enggan untuk mengajakku bicara.

Sesampainya di rumah. Langsung kubaringkan tubuhku di kasur. Aku lupa untuk mengucapkan salam. Bapak dan Ibu merasa bingung dengan sikapku yang terlihat tak seperti biasanya itu.

“Kenapa kau Genta?” Tanya ibu dengan nada khawatir.

Aku hanya diam karena menahan tangis,

“Hei kenapa kau ini? Sakit?” Tanya bapak juga.

Dengan berat hati aku pun meceritakan semua kejadian yang aku alami hari ini. Semuanya. Bahkan tak ada yang terlewat satupun. Dari awal aku membuat karya itu sampai tak bisa lagi kutemui gambar terbaikku itu. Aku bercerita dengan tertatih karena menangis. Bapak dan Ibu diam mendengar ceritaku. Mereka sepertinya juga merasakan kesedihanku.Tapi sama seperti aku, mereka pun tak bisa berbuat banyak.

“Ya sudah kan bisa kau gambar lagi. Lebih baik sekarang kau tidur karena besok harus mengamen lagi. Semoga besok ada keajaiban untukmu, Nak.” Kata bapak.

Aku pun menuruti apa kata bapak walaupun dalam hati menggerutu. Apakah bapak tidak mengerti bahwa itu gambar terbaikku. Walaupun aku bisa menggambarnya lagi, tapi belum tentu bisa sama seperti itu.

Esoknya pagi-pagi sekali, Katri sudah menjemputku. Kami ingin mengamen di jembatan itu lagi. Walaupun aku masih sedih dengan kejadian kemarin, tapi kata ibu tak baik jika bersedih terlalu lama. Setelah sarapan nasi goreng buatan ibu, aku dan Katri bergegas pergi. Di jalan Katri terus berbicara, sehingga aku pun sedikit lupa dengan gambar itu.

Hari Sabtu ini jalan-jalan di Jakarta tidak terlalu ramai seperti biasanya. Hanya beberapa kendaraan yang melintas. Mungkin mereka lebih senang menghabiskan hari libur dengan keluarga ke tempat-tempat rekreasi di luar kota sana setelah berhari-hari disibukkan dengan rutinitas kerja Ibukota. Jalanan pun terlihat lebih lengang. Kadang aku berpikir andaikan Jakarta seperti ini setiap hari. Tak ada kemacetan, suara bising klakson kendaraan, dan asap-asap kendaraan yang membuat kabur penglihatan. Indah rasanya.

Aku dan Katri pun duduk di trotoar menunggu nyalanya lampu merah yang bisa membuat kendaraan-kendaraan itu menghentikkan sejenak laju kendaraan mereka. Tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki tua memakai celana hitam dengan setelan jas hitam datang menghampiriku dan Katri. Tangan kanannya menggenggam sebuah telepon selular dan tangan kirinya membawa sebuah gulungan kertas. Ia tersenyum ke arah kami. Di hadapannya kami seperti tak berdaya.

“Nak, apa kau mengamen di sini kemarin siang?” Tanyanya seraya tersenyum.

“Ya, Pak. Memangnya ada apa ya?” aku balik bertanya dengan nada bingung.

“Kemarin anak buah saya menemukan kertas ini di jembatan itu. Menurut pendapatnya ini milik salah satu dari pengamen itu. Tapi karena tak tahu pemiliknya, ia membawa ke kantor dan saya melihatnya.”

Aku dan Katri masih bingung dengan maksud bapak itu bercerita. Lalu aku memberanikan diri untuk bertanya,

“Lalu apa Bapak sudah bertemu dengan pemiliknya?”

“Itu masalahnya, Nak. Kau tahu sendiri banyak  sekali pengamen di Jakarta ini. Siapa pula yang bisa memastikan ini milik pengamen atau orang yang lewat dan tak sengaja menjatuhkan kertas ini.”

“Benar juga, Pak. Tapi kenapa bapak susah-susah mencari pemiliknya, padahal hanya kertas digulung. Buang saja, Pak.” Kata Katri.

“Ini memang hanya selembar kertas, tapi di dalamnya ada sebuah karya yang indah jika direalisasikan. Kau tak bisa membayangkannya, Nak. Ini akan sangat berguna bagi pemiliknya.”

“Ya sudah lebih baik bapak cari di tempat lain! Barangkali anda bisa menemukan pemiliknya.” Ujar Katri.

“Baiklah. Tapi tunggu… Apakah kalian tahu seorang pengamen yang bernama Genta? Di kertas ini tertulis nama itu. Mungkin ini nama pemiliknya.” Tanya laki-laki itu sambil memperhatikan tulisan yang tertera di bagian atas gambar.

Aku dan Katri terkejut bukan main. Laki-laki berjas itu menyebut namaku. Genta. Ya Genta. Tak salah telingaku ini mendengar nama yang ia sebutkan dengan tepat. Itu namaku. Mungkinkah itu juga gambarku. Gambar yang kemarin hilang hingga aku harus mencarinya. Jika benar, Allah memang Maha Penyayang.

Langsung kuambil kertas itu dari tangannya. Laki-laki itu merasa sedikit terkejut. Aku tak mempedulikannya. Dan benar saja itu memang gambarku. Gambar kesayanganku. Aku pun tersenyum senang ke arah Katri dan laki-laki itu.

“Terima kasih banyak, Pak. Anda telah menyelamatkan gambarku.” Ucapku bersemangat.

“Itu punyamu, Nak?” Tanyanya

Aku dan Katri menceritakan bagaimana kami berusaha mencari gambar itu kemarin. Laki-laki itupun mengerti. Dan ia memberiku sesuatu yang lebih lagi dari gambar itu. Anugerah dari Allah untukku. Ia memintaku untuk menjadi karyawan di kantornya. Ternyata ia adalah seorang kontraktor yang membangun gedung-gedung tinggi. Ia menawariku untuk mendesain bentuk bangunan yang nantinya akan menjadi model utama pembangunan-pembangunan baru. Tanpa pikir panjang, aku terima tawaran bagus itu, karena itu adalah impianku sejak lama. Menjadi orang hebat yang membuat bangunan pencakar langit.

Sejak Sabtu pagi itu hidupku telah berubah. Tak ada lagi pergi mengamen di perempatan jalan atau di jembatan yang Katri bilang gudang uang itu, tak lagi mencium bau busuk dari gunungan sampah itu. Aku dan orangtuaku kini tinggal di sebuah rumah kecil yang diperuntukkan bagi karyawan yang bekerja di perusahaan kontraktor milik laki-laki yang aku anggap penyelamat gambarku.

Hampir setiap hari aku bekerja. Tak ada hari libur untukku. Sesekali memang ada, biasanya hari Minggu. Aku merasa nyaman dengan pekerjaan ini. Teman-teman kerjaku juga mau membagi ilmu denganku. Aku pun tak merasa rendah diri karena pendidikanku yang hanya sampai sekolah dasar. Tak terasa 10 tahun sudah aku tinggal di rumah itu dan bekerja di perusahaan kontraktor itu.

Dan saat ini aku sedang duduk lagi di atas batu besar itu. Kembali melihat kehidupanku yang dulu. Pemukiman kumuh dengan gunungan sampah. Bersama rekan-rekan kerja, aku akan membangun sebuah rumah susun di tempat ini. Aku akan menyediakan tempat yang lebih baik untuk teman-temanku disini sehingga mereka bisa tinggal di tempat yang lebih layak tanpa menghilangkan mata pencaharian yang sudah mereka jalani selama bertahun-tahun lalu.

Aku tetaplah aku yang dulu. Seorang yang berangkat dari kehidupan yang sangat sederhana. Di tempat inilah aku lahir, tinggal, bekerja, menghasilkan sesuatu yang sangat berguna sampai bisa membuatku seperti saat ini, dan aku akan berbuat yang terbaik juga untuk kampung kumuh penuh cerita ini. (KOM/TDN)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: